1. Cara Memilih dan Memasang Antena TV yang Efektif.
Gambar 1. Antena Televisi
Sering kita dibuat jengkel bila suatu saat sedang melihat suatu siaran TV tiba-tiba terganggu karena gambar atau suara siaran memudar penuh dengan semut. Hal ini terjadi terutama pada siaran TV yang menggunakan modulasi analog, misal pada siaran UHF atau VHF. Memang kecenderungan perkembengan teknologi elektronika mengarah ke system digital ini ditandai dengan maraknya operator siaran TV berlangganan.
Bahkan perusahaan telekomunikasi yang ada di Indonesia mulai mencoba memasarkan jasa siaran TV kabel melalui jalur layanan internet. Siaran TV satelite yang biasa masyarakat sebut siaran parabola juga menghasilkan gambar dan suara yang bagus, tapi untuk dapat menikmatinya paling tidak harus mengeluarkan dana 1,5 juta rupiah guna membeli seperangkat sattelite receiver, reflektor, feed horn dan rotater.
Tapi sampai saat ini Siaran TV (UHF dan VHF) analog masih menjadi favorit masyarakat karena lebih murah (gratis), dari sisi kualitas gambar dan suara tentu saja berbeda dengan system digital. Tapi ini bisa kita siasati dengan cara memaksimalkan RF TV yang kita terima dari pemancar ke antena, booster sehingga sampai TV mutu gambar dan suara lebih memadai.
Berikut Trik Memilih dan Memasang Antena Tv :
• Pilih antena deret (yagi) yang memiliki elemen lebih banyak atau panjang, karena dengan director yang panjang akan di peroleh gain atau penguatan lebih besar. Selain itu penembakan arah dari pemancar lebih tepat dan interferensi dari pantulan gedung bertingkat atau bukit lebih sedikit mempengaruhinya.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 1/14
• Gunakan kabel coaxial 75 ohm yang memiliki loses daya kecil, biasanya jumlah serabut lebih tebal dan kawat konduktornya lebih besar. Harga per meternya tentu saja lebih mahal. sebagai contoh merk USA, KITANI, BELDEN, YURI
• Untuk panjang kabel antara antena dan booster sebaiknya sekitar 1,5 meter tanpa adanya gulungan.
• Bila jarak pemancar agak dekat dan penguatan daya RF terlalu besar anda bisa mengurangi trimpot UHF Gain menjadi lebih kecil. Tapi bila jangkauanya jauh anda bisa atur pada posisi maksimal.
• Tinggi antena disesuaikan dengan tempat dan jarak antara antena dan pemancar.
• Pastikan seluruh konektor terhubung dengan sempurna dan benar(biasanya pengkabelan booster, antena di sertakan petunjuknya).
• Gulungan sisa kabel secara tidak langsung juga menurunkan daya RF meskipun kecil.
• Yang paling akhir adalah menentukan arah antena yang tepat di mana pemancar berada, biasanya untuk penerimaan yang jauh dari pemancar sudut deviasi menjadi lebih kecil. Artinya sekelompok pemancar dari kota tertentu bila diterima dengan jarak yang agak jauh masing-masing pemancar berada pada arah antena yang sama. Cara Memilih dan Memasang Antena TV yang Efektif.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 2/14
2. DISTRIBUSI SIGNAL DARI ANTENA TELEVISI
A. Distribusi Langsung
Ada beberapa cara pendistribusian signal yang berasal dari antena televisi, antara lain adalah dengan cara langsung. Dimana kabel transmisi dari antena langsung disambungkan ke pesawat televisi.
Gambar 2. Sambungan dari Antena langsung ke TV
Ada kalanya jarak antara pemancar televisi dan penerima televisi sangat jauh, sehingga signalnya kecil/kurang kuat. Untuk itu diperlukan sebuah penguat antena yang biasa disebut Booster. Pemasangan booster terletak antara antena dan televisi. Ada 2 macam booster yaitu (1) Indoor dan (2) Outdoor.
Booster indoor dipasang dekat dengan pesawat televisi dan diletakkan di dalam rumah.
Booster outdoor dipasang dekat dengan antena dan terletak di luar ruangan/rumah.
Antara dua model booster diatas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Booster indoor mempunyai kelebihan antara lain tahan terhadap hubung singkat, karena terlindungi. Sementara booster outdoor akan mempunyai hasil yang lebih baik karena lebih dekat dengan antena, sehingga signal yang dari antena langsung dikuatkan. Dengan demikian dapat meminimalkan signal noise/gangguan dari luar. Pemasangan booster seperti terlihat dibawah.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 3/14
Gambar 3. Pemasangan booster pada antena TV
B. Distribusi Dari Satu Antena ke Lebih Dari Satu Televisi
Satu buah antena televisi biasanya diperuntukkan hanya untuk sebuah pesawat TV. Namun sebenarnya bisa juga digunakan untuk lebih dari satu pesawat TV. Jika dirumah kita ada 3 pesawat TV misalkan di ruang tamu, diruang keluarga dan di ruang tidur, maka tidak mungkin kita memasang 3 buah antena TV. Cara yang termudah adalah dengan mencabang saluran dari antena TV ke 3 pesawat TV yang ada. Adapun caranya dengan menggunakan Splitter. Dibawah diperlihatkan satu antena TV untuk 4 buah pesawat TV.
Gambar 4. Satu antena untuk 4 buah TV.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 4/14
Apabila distribusi signal dari antena ke banyak TV dan diantara TV-TV tersebut ada yang berjarak jauh, maka perlu dibutuhkan penguat atau sering disebut Booster. Kebutuhan booster disini apabila signal yang dari antena tidak nyampai atau terlalu lemah jika diterima di pesawat TV yang jaraknya jauh. Booster mempunyai penguatan yang berbeda-beda dan biasanya di tulis dengan besaran dB (desiBell). Semakin besar nilai dB nya maka semakin besar pula penguatan yang akan didapatkan.
Gambar dibawah memperlihatkan sambungan distribusi dari satu antena ke banyak TV yang diantaranya berjarak jauh dari antena.
Gambar 5. Distribusi ke banyak TV dengan jarak yang jauh
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 5/14
C. PENGGABUNGAN 2 ANTENA TELEVISI
Ada kalanya kita membutuhkan 2 buah antena TV, yaitu UHF dan VHF. Kadang disuatu daerah masih ada siaran VHF. Untuk ini kita perlu memasang antena TV VHF, karena tidak baik dan tidak mungkin menerima siaran TV VHF dengan menggunakan antena UHF. Untuk itu perlu penggabungan signal dari antena VHF dan UHF sebelum masuk ke TV atau ke jaringan distribusi. Gambar dibawah memperlihatkan cara penggabungan 2 antena VHF dan UHF.
Gambar 6. Penggabungan 2 antena menjadi 1 saluran
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 6/14
3. PEMBAGIAN KANAL TV MENURUT NORMALISASI CCIR
Dibawah adalah pembagian kanal televisi menurut standar CCIR (Consultative Committee for International Radio-communications).
Daerah / Band
Saluran
Kanal
Daerah Frekuensi
( MHz )
I
47 – 68 MHz
2
3
4
47 – 54
54 – 61
61 – 68
III
174 – 233 MHz
5
6
7
8
9
10
11
174 – 181
181 – 188
188 – 195
195 – 202
202 – 209
209 – 216
216 – 223
IV
470 - 605
21
22
30
37
470 – 478
478 – 486
542 – 550
598 – 606
V
606 - 790
38
60
606 – 614
782 – 790
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 7/14
Cara Pasang Antenna Parabola TV
Anda ingin mencoba memasang antenna parabola, baik itu buat Penerimaan TV Satelit maupun buat keperluan Grabbing Internet, tidak ada salahnya untuk sejenak sempatkan diri membacanya disini, bagaimana cara pemasangan antenna parabola yang baik dan langsung anda praktekkan dirumah.
I. Alat yang dibutuhkan (penting dan jangan sampai tidak dimiliki)
• Obeng, Spana (kunci inggris) , Kunci pass buat mengencangkan mur dan baut.
• Magnetic Compass (penentu arah Barat dan Timur secara tepat)
• Water pass (lihat gambar) untuk pemasangan tiang supaya benar-benar tegak lurus.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 8/14
II. Lokasi pemasangan
Pasang antenna ditempat aman, jauhkan benda-benda termasuk dedaunan yang dapat menghalangi bidang pancaran satelit ke dish parabola anda (terutama pada bidang elevasi timur dan barat) biasanya antenna parabola dipasang di atas atap rumah.
III. Peralatan Antenna
• LNB C Band atau Ku Band
• Dish (parabola reflektor)
• Penyangga tiang yang dapat di setel.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 9/14
Perlu diketahui sebenarnya yang benar-benar antenna disini adalah alat kecil yang ada dalam LNB berbentuk seperti jarum (paku kecil) posisi cross antara vertical dan horizontal guna menentukan polarisasi pancaran.
Sedangkan dish parabola hanya sebagai reflektor signal masuk dari satelit ke arah LNB (feedhorn) tersebut.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 10/14
Bentuk Parabola memang dibuat khusus melengkung dan setiap titik lengkung telah diukur dengan sudut tertentu sehingga pantulan (refleksi) signal akan terfokus ke LNB, Jadi jangan terlalu khawatir dengan dish parabola yang telah anda beli di pasar, namun khawatirlah pada anda sendiri apakah yakin bisa memasang antenna tersebut dengan sempurna, nah untuk yakin dapat memasang antenna tersebut sebaiknya cermati cara dibawah ini.
• Pasang tiang antenna terserah dimana saja yang penting arah dish bebas hambatan.
• Pastikan Tiang antenna tegak lurus (Penting !!), gunakan peralatan ukur seperti water pass, atau benang bandul yang biasa dipake tukang mendirikan tiang rumah.
• Pastikan tiang antena kuat dan tahan goncangan dan tidak goyang jika perlu dicor menggunakan semen, atau disangga dan kokoh, kemudian pasang bracket dish parabola dan letakkan diatas tiang bersamaan dengan dish, ingat arah pergerakan dish Parabola harus ke arah Timur dan Barat tidak kearah lainnya dan itulah gunanya magnetic compass.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 11/14
• Posisi Parabola di daerah garis khatulistiwa sangat menguntungkan karena tidak perlu mengatur elevasi Utara-Selatan
• Jika telah yakin kemudian pasang penyangga LNB dan segera pasang LNB secara bersamaan.
• Pada pemasangan NLB ikuti arah Barat atau timur untuk titik O yang ada di LNB arahkan titik O tersebut ke arah Barat atau timur sesuai Elevasi antenna.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 12/14
• Pastikan LNB menghadap ke arah titik tengah dish secara tepat dan jangan miring kekiri atau ke kanan, jangan lupa kencangkan semua baut.
• Untuk pemasangan LNB lebih dari satu anda cukup melihat contoh gambar yang ada dan cara pemasangan tetap sama hanya bentuknya saja kelihatan sedikit aneh, atau gunakan Motor (positioner dan actuator) antenna jika tidak ingin LNB terlalu banyak dan dengan positioner dan actuator tersebut anda akan mendapat siaran yang lebih banyak karena akan lebih banyak satelit yang didapat.
• Gunakan splitter yaitu alat pencampur beberapa LNB sehingga keluaran ke Receiver hanya menggunakan 1 buah kabel. lihat contoh gambar dibawah ini:
• Kemudian dilanjutkan dengan memasang kabel antenna pastikan socket antenna terpasang benar dan kencang kemudian gunakan isolatip yang bagus, jika perlu pake isolatip tarik untuk mencegah korosi pada pangkal kabel, bisa juga menggunakan penutup LNB untuk lebih aman dari embun maupun hujan, tapi ingat tutup yang di bagian atas saja jangan menutup bagian bawah LNB.
• Ikatlah kabel di penyangga LNB agar kelihatan rapi, dan kabel disekitar dish seharusnya di longgarkan dan pada posisi yang aman sesuai ruang gerak agar tidak mengganggu pergerakan dish.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 13/14
• Tahap berikutnya adalah melakukan pencarian signal satelit sebagai patokan adalah Satelit Palapa karena mempunyai sudut elevasi dan sebagai patokan untuk pencarian satelit lainnya yang mempunyai sudut elevasi berbeda namun dengan elevasi pergerakan yang sama.
• Gunakan Receiver yang dapat mencari intensitas signal dan kanal tv otomatis, saat ini reveiver jenis ini sudah sangat banyak dijual dan dengan harga yang relatip murah. Pada receiver biasanya terdapat tombol “Search” pada remote control dan biasanya akan tampil Bar intensitas dan kwalitas signal, gerakkan dish parabola ke barat atau ketimur dengan pelan dan seksama, perhatikan intensitas signal satelit (kuatnya intensitas disini adalah sebagai penentu keberadaan satelit di setiap orbitnya dan letak satelit biasanya berurutan) namun perlu diingat walaupun letak satelit di angkasa berjauhan namun pada pusat bumi jarak pergeseran tersebut sangat sempit) kemudian jika intensitas signal dianggap cukup besar maka beralihlah ke menu pengaturan satelit dan kemudian pilih pencarian otomatis, pilih menu “cari semua” atau “bebas (FTA)” dan tekan tombol oke dan biasanya akan kita dapat kanal tv lengkap dengan nama stasiunnya, jika telah selesai tinggal di simpan dan jangan lupa beri nama untuk Satelit tersebut. Jika proses ini selesai maka anda dianggap sudah dapat mencari kanal tv yang lainnya dengan cara yang sama sambil menggerakkan arah antenna ke posisi lainnya. Dan jangan lupa menandai sudut elevasi dari satelit yang sudah anda dapatkan atau jika menggunakan positioner dan actuator dish anda hanya tinggal melakukan penyimpanan memori untuk setiap satelit yang didapat.
Cara memasang antena TV dan Parabola Hal : 14/14
Sabtu, 16 Mei 2015
Indonesia memasuki era TV Digital
TV digital adalah siaran audio (suara), video (gambar), dan informasi tambahan lainnya yang dipancarkan dalam bentuk format digital. Kata “digital” itu sendiri sudah sangat sering digunakan dalam bahasa teknologi modern dan umumnya mengacu pada suatu entitas fisik yang dikuantisasi dan diwakili oleh karakter biner.
Tentang TV Digital
Siaran televisi digital di Indonesia sudah tidak dapat terelakkan lagi keberadaannya. Sistem penyiaran digital merupakan perkembangan yang sangat pesat di dunia penyiaran dimana terdapat peningkatan kapasitas layanan melalui efisiensi pemanfaatan spektrum frekuensi radio. Sistem penyiaran televisi digital bukan hanya mampu menyalurkan data gambar dan suara tetapi juga memiliki kemampuan multifungsi dan multimedia seperti layanan interaktif dan bahkan informasi peringatan dini bencana.
Mulai awal tahun 2012, Indonesia melalui Peraturan Menteri Kominfo No. 05 tahun 2012, mengadopsi standar penyiaran televisi digital terestrial Digital Video Broadcasting – Terrestrial second generation (DVB-T2) yang merupakan pengembangan dari standar digital DVB-T yang sebelumnya ditetapkan pada tahun 2007. Dalam hal ini, pemerintah berusaha untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan menganggapnya sebagai suatu peluang bagi pengembangan industri penyiaran nasional ke depan. Sebelum menetapkan standar digital tersebut, pemerintah terlebih dahulu melakukan kajian dan konsultasi publik dengan melibatkan parastakeholders terkait.
Penyiaran televisi digital terrestrial adalah penyiaran yang menggunakan frekuensi radio VHF / UHF seperti halnya penyiaran analog, akan tetapi dengan format konten yang digital. Dalam penyiaran televisi analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi signal akan makin melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang. Lain halnya dengan penyiaran televisi digital yang terus menyampaikan gambar dan suara dengan jernih sampai pada titik dimana signal tidak dapat diterima lagi. Singkat kata, penyiaran TV digital hanya mengenal dua status: Terima (1) atau Tidak (0). Artinya, apabila perangkat penerima siaran digital dapat menangkap sinyal, maka program siaran akan diterima. Sebaliknya, jika sinyal tidak diterima maka gambar-suara tidak muncul.
Dengan siaran digital, kualitas gambar dan suara yang diterima pemirsa jauh lebih baik dibandingkan siaran analog, dimana tidak ada lagi gambar yang berbayang atau segala bentuk noise (bintik-bintik semut) pada monitor TV. Pada era penyiaran digital, penonton TV tidak hanya menonton program siaran tetapi juga bisa mendapat fasilitas tambahan seperti EPG (Electronic Program Guide) untuk mengetahui acara-acara yang telah dan akan ditayangkan kemudian. Dengan siaran digital, terdapat kemampuan penyediaan layanan interaktif dimana pemirsa dapat secara langsung memberikan rating terhadap suara program siaran.
Semua negara harus telah menetapkan tahun migrasi dari siaran analog ke digital. Negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat bahkan telah mematikan siaran analog (analog switch-off) dan beralih ke siaran digital. Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa selambat-lambatnya implementasi penyiaran digital dimulai tahun 2012 dan di tahun-tahun berikutnya di kota-kota besar yang telah bersiaran digital akan dilakukan analog switch-off. Dalam roadmapimplementasi penyiaran televisi digital, Pemerintah merencanakan bahwa tahun 2018 akan dilakukan analog switch-offsecara nasional. Oleh karena itu, sejak kini masyarakat dan para pelaku industri agar mempersiapkan diri untuk melakukan migrasi dari era penyiaran televisi analog menuju era penyiaran televisi digital.
INDONESIA mulai memasuki era penyiaran TV Digital terestrial free-to-air. Sistem penyiaran televisi digital ini mampu memancarkan sinyal gambar dan suara dengan kualitas penerimaan yang lebih tajam serta jernih di layar TV dibandingkan siaran analog
Sejak akhir 2012, infrastruktur TV Digital sudah mulai dibangun dan dioperasikan oleh penyelenggara multipleksingswasta di Jawa dan Kepulauan Riau. Konten siaran dalam format digital pun sudah dapat dinikmati masyarakat di wilayah ini. Daerah lain akan menyusul secara bertahap, seperti Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Pada masa transisi, sinyal analog dan digital dipancarkan secara bersamaan yang dikenal dengan masa simulcast. Selain untuk tetap menjamin hak masyarakat mendapatkan informasi melalui media TV, tujuan masa transisi adalah agar masyarakat mulai melakukan peralihan ke siaran digital. Pada periode ini masyarakat juga bisa melihat perbedaan kualitas siaran analog dan digital.
Tanpa harus membeli pesawat TV baru, masyarakat dapat menikmati konten siaran format digital dengan cara menambahkan perangkat converter (yang disebut set top box) pada pesawat TV lama. Set top box (STB) adalah alat bantu penerima siaran digital yang berfungsi mengkonversi dan mengkompresi sinyal digital sehingga dapat diterima pada pesawat TV analog.
STB sebagai receiver sinyal digital harus memiliki standard yang sama dengan sistem pemancar (transmitter), yaitu DVB-T2. Standard ini diadopsi Indonesia sejak 2012, menggantikan standard DVB-T (2007) sebagai standard penyiaran TV Digital terestrial penerimaan tetap free-to-air atau tidak berbayar.
Salah satu perbedaan antara siaran TV analog dan digital adalah pada pemanfaatan spektrum frekuensi radio sebagai sumber daya alam yang sangat terbatas. Pada sistem penyiaran TV analog, satu kanal frekuensi digunakan untuk menyalurkan satu program siaran TV. Sementara pada sistem penyiaran digital DVB-T2, satu kanal frekuensi mampu membawa hingga 12 program siaran standard definition (SDTV). Artinya, terjadi inefisiensi penggunaan spektrum frekuensi radio pada sistem analog. Sebaliknya, terdapat optimalisasi pemanfaatan kanal frekuensi pada sistem digital.
Pada penyiaran TV Digital, kualitas gambar dan suara jauh lebih baik dibandingkan siaran analog. Hal ini dikarenakan pancaran sinyal digital relatif stabil dan tidak menurun. Juga siaran TV Digital hanya mengenal kondisi diterima (1) atau tidak diterima (0) sinyal. Selama sinyal bisa diterima receiver, gambar dan suara konten siaran dapat dinikmati. Sedangkan pada siaran TV analog, kualitas sinyal cenderung menurun ketika lokasi penerimaan semakin jauh dari titik transmisi sehingga menimbulkan noise atau „bersemut‟. Selain itu juga rentannya sinyal siaran analog terhadap gangguan cuaca.
Membangun jaringan infrastruktur TV Digital memang membutuhkan investasi yang besar. Operator multipleksing TV Digital harus membangun infrastruktur di wilayah-wilayah layanan dalam zona layanannya sesuai komitmen pada saat seleksi penyelenggaraan multipleksing. Namun infrastruktur eksisting dapat tetap dimanfaatkan seperti bangunan, SDM dan lain-lain. Nantinya operator multipleksing tersebut dapat menyewakan sebagian kapasitas yang dimilikinya kepada lembaga penyiaran yang menyediakan program siaran.
Jadi, penyedia konten tidak harus membangun infrastruktur sendiri semacam pemancar, antena, tower, dan sebagainya. Penyedia konten cukup menyewa slot siaran sesuai ketentuan kepada operator multipleksing untuk menyalurkan konten siarannya kepada masyarakat di suatu wilayah. Model bisnis ini merupakan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah dengan tetap mengedepankan prinsip open access dan non discriminatory antara penyelenggara jaringan dengan penyedia konten siaran.
Proses transisi dari analog ke digital menuju pada saat dihentikannya siaran analog (analog switch-off). Analog Switch Off (ASO) sudah dilakukan secara total di banyak negara, antara lain Amerika Serikat (12 Juni 2009), Jepang (24 Juli 2011), Kanada (31 Agustus 2011), Inggris dan Irlandia (24 Oktober 2012), Australia (2013). Indonesia menetapkan ASO secara nasional pada 2018. Namun demikian, ASO akan dilakukan sebelumnya secara bertahap di kota-kota besar yang telah lebih dulu tercover siaran TV Digital. Seperti kota-kota di Jawa, rencananya ASO dilaksanakan pada 2015 setelah hampir seluruh populasi terjangkau dan sudah menonton siaran digital.
Berjalan mulus tidaknya proses migrasi hingga ASO tergantung pada dukungan seluruh pemangku kepentingan. Kesadaran masyarakat mau membeli STB sendiri untuk berpindah dari menonton siaran TV analog ke digital sangatlah penting. Operator multipleksing TV Digital memang menyediakan STB sebagai bentuk komitmennya mendukung program migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital. Namun jumlahnya terbatas dan pembagiannya juga membutuhkan waktu yang cukup lama serta kriteria penerima harus sesuai ketentuan. Pemerintah juga mendorong pabrikan set top box lokal untuk memproduksi STB yang berkualitas dengan harga jual terjangkau masyarakat luas.
Pemerintah memiliki peran bukan hanya sebagai regulator tetapi juga melakukan sosialisasi TV Digital. Pemerintah telah melakukan sosialisasi dan menyiapkan berbagai sarana untuk membangun awareness dan kesiapan masyarakat menyambut era penyiaran TV Digital. Billboard TV Digital sudah tersebar di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Sosialisasi juga dilakukan melalui media sosial twitter dengan mem-follow @TVDigital_IDNjuga Fan Page Facebook TVdigital.Kominfo. Selain itu, sudah beroperasi selama 24 jam layanan call center Halo TV Digital di nomor 500801 untuk melayani masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang program TV Digital. (info)
Sumber : http://tvdigital.kominfo.go.id/
Langganan:
Postingan (Atom)